diataskapalkertas:

image

Segepok uang Rp 50 ribuan digulung sekenanya, dimasukkan dalam kantong bagian belakang celana seorang calon legislator yang sedang berkampanye di lapangan terbuka. Uang-uang berwarna biru itu engap dan membau terkena keringat yang mengalir di pantat si calon legislator yang kepanasan…

Ah.. ah.. selembar dua yang jadi seharga nyawa.

12 notes

diataskapalkertas:

image

Segepok uang Rp 50 ribuan digulung sekenanya, dimasukkan dalam kantong bagian belakang celana seorang calon legislator yang sedang berkampanye di lapangan terbuka. Uang-uang berwarna biru itu engap dan membau terkena keringat yang mengalir di pantat si calon legislator yang kepanasan…

Ah, selembar dua yang jadi seharga kumpulan nyawa.

12 notes

that-sarah-is-such-a-cumberbitch:

anonymously-psychotic:

ivanuschka:

glasmond:



image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

I CAN’T. I CAN’t. I CAN’T STOP LAUGHING, THIS IS PERFECT XD

I’M DYING

It’s back!

Edan ini lucu bangeett..

275,466 notes

dan tiba2 suatu kesadaran menerpa saya

mungkin bukan salah kondisi, sepertinya saya saja yang kurang mensyukuri dan menikmati kondisi yang ada.

iya, saya pemalas yang terlalu banyak maunya.

hislittleflower-throughconcrete:

whitecityboywitharedneck:

Dad is a son’s first hero and a daughter’s first love

I cant wait to be a father, and actually do it right.

Picture God as these fathers…

wow, those just bring tears to my eyes…

(Source: may-oo)

32,959 notes

Damn, man!! How could you know…???

Damn, man!! How could you know…???

(Source: glamorous-reflection)

8 notes

s-l-3-3-p-y:

cozyafternoons:

The last picture omg my heart

They are so perfect

OMG… they’re just soooo superbeautiful… <3 <3

(Source: bastardacronica)

51,352 notes

Bandung dan Petualangan

saya lagi mellow.

kangen Bandung.

kangen udaranya—walaupun sekarang sudah ga seadem dulu
kangen kotanya—walaupun sekarang sama macet dan semrawutnya sama Jakarta
kangen tempat-tempatnya—walaupun sudah banyak sekali yang berubah “menjakarta”
kangen orang-orangnya—baik yang masih bisa ditemui atau yang sudah tidak bisa ditemui

kangen momen-momennya. Mungkin itu yang terutama, romantisme yang mengkristal dalam hati dan benak.

Belakangan ini saya dan lelaki saya sering membicarakan mengenai—kembali—tinggal di Bandung. Pulang.

ah, siapa yang tidak ingin pulang ketika sedang di perantauan, apalagi merasa sesak dalam kesehariannya. Walaupun keadaan kami berdua di sini tidak dalam kondisi yang susah-susah banget, tapi tetap saja rasanya penuh perjuangan. Buat saya mungkin karena pada dasarnya saya memang tidak terlalu suka Jakarta, buat dia mungkin karena memang dia tipe orang yang butuh kenyamanan, dan nyaman itu adalah Bandung.

Lelaki saya itu sedang merencanakan usaha di Bandung. Mencari peluang bisnis. Sekarang dia memang sudah punya bisnis bersama temannya, tapi dia merasa perlu membuka usaha lain yang bisa dijadikan pegangan.
Saya? saya dari dulu merasa bukan tipe pengusaha. Saya pemikir. Konseptor. Mungkin cocok jadi planner atau orang-orang di belakang layar. tapi pengusaha, hhmm… saya ragu. Lagipula saya seorang yang mudah bosan, perlu tempat baru, suasana baru, variasi kegiatan untuk membuat mesin saya panas dan roda-roda saya bergerak mulus.

Di satu pihak saya merasa bahwa saya ingin pulang, menikmati Bandung dengan segala kondisinya yang sering bikin saya emosi juga, tapi rasanya di dasar hati, saya tahu, petualangan saya baru saja dimulai. It’s just Jakarta. hanya 3 jam dari Bandung. Saya bisa bolak balik sekehendak hati—selama dananya tersedia. Hati saya merasa belum saatnya saya pulang ke Bandung. Petualangan saya dari Jakarta masih panjang dan masih jauh, sebelum akhirnya saya kembali ke Bandung—mungkin untuk edisi petualangan selanjutnya.

Saya selalu merasa saya akan jadi traveller-petualang, harafiah dan filosofis, tapi entah kenapa saya sepertinya terlalu takut untuk memulai. Terlalu banyak pertimbangan yang menahan saya, “nanti dulu”, “tahun depan”, “menabung dulu”, sampai ijin sama pacar pun jadi pertimbangan. hahaha.. ah, memang nyalinya aja yang belum menyala, dan hatinya yang belum bulat.

Oh ya, kabarnya di tahun Imlek 2565 ini, shio Kelinci agak kurang baik peruntungannya, agak berat. Tapi mudah-mudahan ada pencerahan-pencerahan yang menyala di benak dan hati saya untuk jalan saya selanjutnya. Atau mungkin saya akan membulat, total bersiap untuk petualangan.

Bacanya merinding.. suatu hari nanti mungkin orang macam inilah yang ingin saya temukan.

Ah, somehow sedih karena sadar bahwa semua point2nya terkubur makin dan makin dalam..

Sepertinya saya betul2 butuh lebih banyak keberanian..